Kamis, 04 Januari 2018

Gumi Sasak

PIAGAM GUMI SASAK : Kebangkitan Jati Diri Sasak



Di NTB, terdapat tiga suku bangsa. Ketiga suku bangsa tersebut menciptakan kebudayaan yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya, yang kemudian dikenal dengan nama kebudayaan lokal yang kemudian menyatu menjadi kebudayaan nasional. Masyarakat adat pada dasarnya sangat menjunjung tinggi kebudayaan lokal sebagai sebuah warisan budaya dari para leluhur. Namun, tak jarang budaya lokal semakin tergerus karena generasi muda yang seharusnya menjadi pewaris lebih condong terhadapat budaya-budaya asing yang baru.
Di tanah sasak sendiri, budaya yang dimiliki sangat beragam. Namun, sangat disayangkan jika di era modern ini budaya yang ada di pulau Lombok seperti dilupakan. Oleh sebab itu, untuk mengembalikan/menghidupkan kembali jati diri kebudayaan masyarakat Sasak, beberapa tokoh budaya Sasak melakukan suatu hal bersejarah, yakni pembacaan Piagam Gumi Sasak di Museum Negeri NTB.
Menurut penuturan Bapak Sadaruddin “pembacaan piagam gumi sasak itu untuk membangkitkan kembali, menghidupkan kembali, dan menunjukkan kembali jati diri orang sasak, bahwa sasak ini eksis, sasak ini ada dengan segala macam bentuk peradabannya, budayanya, adat istiadat. Jadi itulah maksudnya dari piagam gumi sasak. Sehingga untuk kedepan supaya sasak ini eksis kedepannya, berbuah, berkarya, kemudian sasak ini bisa bicara di muka umum”.
Penggagas piagam gumi sasak yaitu Dr. H. L., Agus Fathurraman, dengan maksud agar orang sasak tau jati dirinya.
Tetapi yang jelas, pada tanggal 26 Desember 2015 tokoh -tokoh masyarakat Sasak secara independen tanpa bantuan pemerintah mencetuskan pernyataan sikapnya, yang disebut sebagai Piagam Gumi Sasak. Berikut ini isi naskah dari Piagam Gumi Sasak.
PIAGAM GUMI SASAK
BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIM
Menjadi bangsa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan matarantai sejarah kemanusiaan, melalui symbol-symbol yang diletakkan dalam pemikiran bangsa Sasak yang terhampar di Gumi Paer. Symbol-simbol yang diletakkan itu merupakan tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju jati dirinya yang sebenarnya.
Perjalanan sejarah bangsa Sasak yang diwarnai  oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana yang menenggelamkan, mengaburkan , dan menistakan keluhuran budaya Sasak. Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengetahuan jati diri, sampai pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang masih berlangsung hingg saat ini, melalui pencitraan budaya  dan sejarah bangsa yang ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialism modern. Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi bangsa inferior yang tak mampu tegak di antara bangsa-bangsa  lain dalam rangka menegakkan amanat kefitrahannya sebagai  bangsa.
Sadar akan hal tersebut, kami anak-anak bangsa sasak mengumumkan PIAGAM GUMI SASAK sebagai berikut :
Pertama :
Berjuang bersama menggali dan menegakkan jati diri bangsa Sasak demi kedaulatan  dan kehormatan budaya Sasak
Kedua :
Berjuang bersama memelihara, menjaga dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak agar terpelihara kemurnian kebenarannya, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya Sasak.
Ketiga:
Berjuang bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya kebudayaan yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dan menjunjung tinggi nilai religiusitas dan tradisionalitas.
Keempat :
Berjuang bersama membangun citra sejati bangsa Sasak baru dengan kejatidirian yang kuat untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.
Kelima :
Berjuang bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu dan berwibawa dalam bingkai Negara Kesatuan Repuplik Indonesia.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa Sasak menuju kemaslahatan seluruh umat manusia.
Mataram, 14 Mulut tahun Jimawal 1437/H
26 Desember 2015
Ditandatangani bersama kami,
  1. Drs. Lalu Azhar
  2. Drs. Haji Lalu Mujtahid
  3. Drs. Lalu Baiq Windia M.Si
  4. TGH. Ahyar Abduh
  5. Drs. Haji Husni Mu’adz MA., Ph. D
  6. Dr. Muhammad Fajri, M.A
  7. Dr. Jamaludin, M. Ag
  8. Dr. Lalu Abd. Kholik, M.Hum.
  9. Drs. H. A. Muhit Ellepaki, M. Hum
  10. Dr. H. Sudiman M. Pd
  11. Dr. H. L., Agus Fathurraman
  12. Mundzirin
  13. L. Ari Irawan, SE., S. PD., M. Pd.

Rabu, 03 Januari 2018

Mari Intip Adat Sasak

“Sorong Serah” Adat Suku Sasak


Suku sasak sendiri sangat kaya akan adat-istiadat yang dimiliki. Disetiap adat tersebut tentunya sangat sarat akan makna atau nilai yang terkandung didalamnya. Adat bagi masyarakat sangatlah penting sebab hal tersebut merupakan salah satu penanda atau yang akan membentuk suatu ciri khas dari keberagaman yang mereka miliki.
Salah satu adat yang sampai saat ini masih terus menerus dilestarikan dan dilaksanakan oleh masyarakat suku sasak yakni adat “Sorong Serah”. Adat  ini biasanya dapat kita temui pada saat acara merarik (Menikah) yang ada pada suku sasak. Sorong sendiri dalam bahasa Indonesia artinya Mendorong dan serah artinya menerima. Perwakilan dari pihak perempuan merupakan pihak “sorong” sedangkan perwakilan dari pihak laki-laki merupakan pihak “serah”.
Namun, selain itu terdapat banyak esensi atau nilai moril yang dapat kita temukan dari acara adat ini, antara lain:
1.       Nilai Tanggung Jawab
Nilai tanggung jawab dapat terlihat dari adanya beberapa jumlah uang serta kain yang secara simbolis diberikan oleh pihak laki-laki ke pihak perempuan, yang bertujuan untuk dapat digunakan oleh si mempelai perempuan ketika nantinya telah berkeluarga atau hidup berpisah dari keluarganya (orang tua). Si laki-laki pada saat itu juga memperlihatkan tanggung jawabnya sebagai sang kepala rumah tangga (pemimpin).
2.       Nilai Perjanjian
Ada kesepakatan atau perjanjian yang tercipta antara ke dua belah pihak. Mereka sepakat untuk menjalin sebuah ikatan keluarga dan terus menjaga hubungan silahturrahmi antara ke dua belah pihak tanpa adanya saling iri atau permusuhan yang akan tercipta nanti kedepannya.
3.       Nilai Kebersamaan
Selain itu nilai kebersamaan juga akan terlihat dari para tamu undangan yang menghadiri acara tersebut, seperti adanya suatu interaksi yang akan terjalin antara satu sama yang lain. Serta pada kegiatan ini juga sebagai ajang untuk mengumumkan kepada masyarakat luas bahwa si laki-laki dan perempuan telah sah menjadi suami istri baik dihadapan agama, maupun hukum.
4.       Nilai Sastra Bahasa
Kenapa ada nilai sastra bahasa? Sebab, dari sana kita akan menemukan bahwa adanya kemampuan sastra yang tinggi dalam penggunaan bahasa halus sasak, yang akan diperdengarkan melalui berbagai syair-syair tertentu oleh si “pembayun” pemimpin acara tersebut.
Itulah berbagai hal yang bisa kita temukan dalam  adat “sorong serah” yang ada pada suku sasak. Hal ini tentunya tidak boleh punah dan harus dilestarikan sampai kapanpun dari generasi saat ini ke generasi berikutnya. Sebab hanya adatlah yang akan mampu menjawab pertanyaan mereka dimasa depan nanti akan betapa kayanya warisan leluhurnya saat ini. Tantangan pasti akan ada. Namun, ketika kita mampu untuk tetap membimbing serta mengajarkan mereka akan hal-hal positif yag terkandung dalam warisan adatnya, maka saat itulah tentunya mereka akan cinta dan mau peduli akan apa yang mereka miliki saat ini.

Mari ke Lombok

BUDAYA LOMBOK 
Beberapa ritual keagamaan maupun ritual adat di pulau Lombok seringkali mengundang perhatian para wisatawan, seperti
bau nyale, pujawali, perang topat atau presean. Salah satunya yang paling menarik menurut para wisatawan adalah Ritual atau Tradisi nyongkolan. Nyongkolan adalah sebuah tradisi lokal di Lombok, dimana sepasang pengantin di arak beramai-ramai seperti seorang raja menuju rumah / kediaman sang pengantin wanita. Nyongkolan ini selalu diiringi dan diramaikan dengan beraneka tetabuhan alat musik tradisional dan kesenian khas suku Sasak. Tujuannya agar para warga sekitar mengetahui bahwa pasangan pengantin tersebut sudah menjadi sepasang suami istri yang sah.
Saat pelaksanaan tradisi nyongkolan ini, arak-arakan pasangan pengantin didampingi oleh dedare dedare dan terune terune sasak, juga ditemani oleh para tokoh agama, tokoh masyarakat, atau pemuka adat beserta sanak saudara berjalan mengelilingi desa. Peserta iring-iringan tersebut haruslah mengenakan pakaian khas adat suku Sasak, untuk peserta wanita menggunakan baju Lambung (kadang-kadang juga menggunakan baju kebaya), kereng nine / kain songket (sarung khas Lombok),
sanggul (penghias kepala), anting dan asesoris lainnya. Bagi pengiring laki-laki menggunakan baju model jas berwarna hitam (atau variasi) yang dijuluki tegodek nongkeq, kereng selewoq poto (sarung tenun panjang khas Lombok) dan
capuk (ikat kepala khas Lombok).
Nyongkolan Adat dinaspariwisatalomb
Dalam tradisi nyongkolan, kedua pengantin diibaratkan seperti seorang raja dengan pasangan permaisuri-nya yang diiringi oleh para pengawal dan dayang-dayang istana. Beberapa dari mereka biasanya membawa sebuah hantaran seperti hasil kebun, sayur mayur, ataupun jenis buah-buahan yang akan dibagikan pada penonton, kerabat dan tetangga mempelai perempuan nantinya. Dalam ritual khas pernikahan suku Sasak Lombok, nyongkolan merupakan bagian kecil ritual yang harus dilakukan oleh kedua mempelai.
Untuk memeriahkan acara nyongkolan, biasanya diiringi dengan tabuhan tabuhan gendang beleq khas Lombok, atau sejenis musik rebana dengan lagu lagu daerah Lombok disertai penari dengan pakaian khas tari. Jika sang pengantin merupakan kaum ningrat atau bangsawan, iring-iringan nyongkolan pastinya dilengkapi dengan gendang beleq dan pasukan berani mati yang berkostum seperti prajurit jaman dulu kala. Tidak hanya itu, rudat sebagai kesenian dari Timur Tengah dengan menampilkan berbagai gerakan pencak silat juga ikut meramaikan
tradisi nyongkolan khas Sasak ini.

Uniknya, ada mitos dan kepercayaan yang masih dipegang oleh warga suku Sasak terkait dengan nyongkolan ini. Menurut kepercayaan lama yang masih berkembang dan turun temurun, jika tradisi nyongkolan tidak digelar setelah prosesi akad nikah sang pengantin, maka rumah tangga sang pengantin tersebut biasanya tidak akan bisa bertahan lama atau keturunan dari pasangan pengantin ini biasanya akan terlahir dalam kondisi cacat fisik. Belum ada yang bisa mengkonfirmasi kebenaran mitos ini, namun yang pasti hingga kini nyongkolan masih terus dilaksanakan dan tak jarang bisa menjadi pemicu utama kemacetan ruas-ruas jalanan di Pulau Lombok.
Jika Anda sedang berlibur ke Pulau Lombok, terutama akhir pekan, bisa jadi akan menemui beberapa ruas jalan yang sedikit macet dan ramai karena prosesi nyongkolan ini. Tradisi ini sampai saat ini masih dilaksanakan dan tentunya sangat menarik untuk anda abadikan. Apalagi masing masing iring-iringan nyongkolan ini memakai baju adat khas Sasak serta tari-tarian tradisional yang menarik. Jika Anda seorang Photographer atau hoby photo-photo, anda akan mendapatkan banyak sudut atau angle yang menarik dari berbagai macam seni dan iring-iringan nyongkolan ini. Semoga tradisi nyongkolan di Lombok ini bisa menjadi salah satu pelengkap liburan Anda ke Lombok, selain beberapa destinasi wisata alam yang menarik di Lombok seperti Gunung Rinjani, Bukit Malimbu, Pantai Senggigi atau pun pantai Selong Belanak di Lombok Tengah.
Hasil gambar untuk nyongkolan 
Hasil gambar untuk nyongkolan